Catper Mumbai 1 : Abang Jampang di Imigrasi

Jelajah India!!! dari Bollywood di Mumbai hingga Taj Mahal di Agra, dari Ladakh dekat dengan jajaran Himalaya, kemudian Varanasi hingga Kalkuta!! Perjuangan saya menjelajah India dimulai dari mengurus VoA (Visa on Arrival) di bandara Mumbai!.

Suatu keberuntungan bahwa rencana pergi ke India berkat tiket promo murah dari Air Asia bisa terkabul juga. Isu lama dari bulan Oktober yang menyeruak bahwa Air Asia akan menutup sebagian rutenya ke Eropa dan India akhirnya terkuak juga. Mumbai dan New Delhi adalah kota dimana rute penerbangan dari Kuala Lumpur akan ditutup. Yang membuat khawatir adalah saya punya tiket ke India pada mulai Januari. Dan untungnya penutupan rute dilakukan secara bertahap sesudah Januari. Jadi setidaknya tiket saya aman dan kini huup saya sudah terbang dari Kuala Lumpur dan tiba di bandara udara Mumbai.

Keluar dari pesawat Air Asia dari Kuala Lumpur, dengan tempu waktu 5 jam sayapun berjalan kearah bagian imigrasi. Dan tidak sampai 10 menit saya sudah berada di depan kaunter imigrasi bagian pengurusan VoA. Perlu kegesitan untuk dapat mengantri paling depan. Ini berkat talenta yang terbina bertahun-tahun merasakan kejamnya transportasi metromini Jakarta (baca: rebutan naik metronimi).

Keluar dari pesawat segera saya bergegas jalan cepat menuju ruang imigrasi, tujuan saya bukan toilet akibat menahan pipis sehabis perjalanan udara, tapi saya harus buru2 ke tempat dimana saya harus segera membuat VoA. Setelah menemukan kaunter VoA, dengan berdiri manis (paling depan tentunya heheh) saya berada di dekat ruang pengajuan VoA.

Seperti umumnya petugas imigrasi dibeberapa negara, petugas imigrasi selalu saja berwajah datar, tanpa ekpresi, tanpa senyum layaknya customer servis. Didepan saya, sang petugas hanya menatap saya tanpa ekspresi dan dengan muka dingin menanyakan paspor dan kelengkapan dokumen untuk VoA. Semua persyaratan yang sudah saya siapkan segera berpindah tangan. Petugas membolak balik paspor, dan juga dilihat duplikasi bukti pemesanan penginapan, tiket pulang dan pasfoto terbaru.

Masih dengan muka datar, petugas tersebut berdiri dan meminta saya mengikuti kesebuah ruangan. Berjalan keluar barisan antri sayapun mengikuti beliau dengan tatapan para pengantri lain yang tanpa saya sadari sudah ada puluhan orang berdiri dibelakang saya.

Sayapun dibawa kesebuah bilik bertuliskan “Interview room visa on arrival. ” Wah ada apa ini”, batin saya dalam hati, mudah-mudahan tidak ada masalah. Saya mencoba mengingat-ngingat apa semua persyaratan aplikasi dokumen untuk VoA sudah lengkap atau belum, hingga kemudian suara datar petugas membuyarkan lamunan saya.

Interviewpun dimulai, pertanyaan standar mulai dari dari mana saya datang, mau kemana saja selama di India, pekerjaan saya, rencana aktifitas saya dan lain sebagainya. Hadeeuh kaya interview pekerjaan saja, semua ditanya detail, hingga pemeriksaan dokumen dan terakhir saya diminta untuk menunjukkan jumlah uang yang saya bawa.

Dari situ mulailah awal petaka, jumlah uang yang saya bawa menurut petugas tidak sesuai dengan batas minimum syarat masuk India. Menurutnya minimum uang yang harus saya siapkan terlalu sedikit dengan rencana lamanya saya berada di India, maklum saya berencana keliling India dengan durasi waktu yang lama. Walaupun dihitung2 sebenarnya uang yang saya bawa lebih dari cukup.

Petugas dengan muka dingin dengan tatapan tajam mengingatkan saya pada tokoh inspektur Sanjay dalam film Bollywood tetap dalam pendiriannya. Pikiran burukpun melayang, gawat bisa-bisa VoA saya ditolak dan saya tidak boleh memasuki India yang artinya harus kembali ke tanah air.

Untung saya orang Indonesia yang mempunyai satu jurus bernama “ngeles”, saya jelaskan rencana itinerary saya selama di India, apa yang akan saya lakukan. Mulai dari rencana tidur di bandara malam ini, rencana tidur di bus atau kereta dan gaya traveling saya ala backpacker. Saya jelaskan bahwa saya sudah pergi ke Jepang, Australia, China dan beberapa negara lainnya yang saya jalani ala backpacker. Perjalanan murah meriah tanpa harus mengeluarkan biaya banyak.

Selama interview ini, beberapa kali ada gangguan terus dari pengantri yang datang masuk dan keluar. Dari jendela saya lihat jumlah pengantri makin banyak, inspketur Sanjay, ups petugas imigrasi yang menginterview saya mulai agak melunak, pikirnya daripada mengurus saya yang cerita ngalor ngidul soal backpacker sepertinya akan buang-buang waktu.

Semua dokumen saya dibawa keluar, ntah kemana, cukup lama, petugas yang melayani saya ini beberapa kali masuk dan keluar ruangan, saya di acuhkan saja. Kemudian beberapa pengantripun masuk, ruanganpun mulai sesak, ada 6-7 orang mengantri, mengisi formulir dan tanya jawab. Dari yang saya lihat ada seorang bule yang ternyata tidak membawa pasfoto, ada juga rombongan pelancong dari bahasanya kemungkinan dari Jepang yang kebingungan mencari lembar bukti booking hotel.

Kemudian seorang pemuda yang keliatan kebingungan dan setalah kita ngobrol pemuda ini bernama Luca dari Rusia dan baru saja tiba dari Brazil. Luca mengaku merasa masih jetleg setalah menjalani perjalanan 20 jam, dan sekarang lagi bingung dengan situasi diruangan interview ini. Obrolanpun segera bergulir, rupanya saya dan dia satu penginapan dan kesepakatanpun berlanjut bahwa kita akan bersama-sama menuju penginapan setelah urusan VoA ini selesai.

Dari yang saya amati, beragam masalah rupanya, para pelancong yang hendak mengajukan VoA, dan sayapun sudah mulai tidak nyaman, karena petugas yang membawa semua dokumen saya belum kembali juga. Hingga tiba-tiba datanglah seorang petugas dengan seragam yang lain, lebih seram wajahnya, dengan mata melotot, kumis baplang layaknya abang Jampang dari Betawi. Dengan suara mengelegar si Jampang ini menanyakan mana orang didalam ruangan ini yang memegang paspor berwarna hijau bergambar simbol burung Garuda.

“Yes, i’am sir”, begitu kata saya, “oke come with me..” direspon petugas sambil balik badan dan segera berjalan pergi. Waduh apalagi neh, bergegas saya bereskan semua dokumen saya, setelah berbincang sebentar dengan Luca jika saya beres duluan akan saya tunggu di ruang keluar, terbirit-birit sayapun mengikuti yang ntah mau dibawa kemana saya pergi. Apalagi neh, batin saya dalam hati, mulai lebay*com, jangan-jangan VoA saya ditolak, atau apalah, pokoknya ngga enak perasaan.

Sayapun dibawa kesebuah bilik, dan dihadapkan ke sebuah meja dimana disitu ada petugas yang dari mejanya tertulis sebagai pimpinan urusan keimigrasian. Di belakang meja ada sebuah papan bertulisankan dalam  bahasa Inggris yang kira-kira isinya begini “Pelancong atau yang tidak memenuhi syarat untuk masuk India akan ditolak dan dipersilahkan untuk kembali ke negara dari mana datang”.

Deuug!!! jantung saya langsung berdegub, apakah saya akan ditolak! atau dipersilahkan kembali pulang, atau diizinkan masuk Mumbai, atau…..?? Tunggu catper berikutnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: