Cerita perjalanan : Tidur di Bandara Suvarnabhumi Bangkok


Ada banyak alasan mengapa orang tidur di Bandara, mengejar penerbangan pagi / subuh, takut terlambat datang ke Bandara ntah karena rumahnya jauh, takut terkena macet di jalan dan banyak lagi alasan-alasan lainnya. Bagi para pelancong bertitel backpacker, tidur di bandara adalah hal yang biasa. Tentu saja menginapnya bukan berhari-hari layaknya tidur di hotel, ini hanya salah satu strategi menghemat pengeluaran biaya penginapan. Ini pengalaman saya dalam rangka jelajah kota-kota di Asteng ala backpacker, tidur disalah satu bandara tersibuk di dunia.

Juni 2007, dari Macao saya gunakan penerbangan murah meriah Air Asia menuju Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok. Berangkat dari Macao pukul 21.35, penerbangan tengah malam tiba di Bangkok pukul 23.15. Saat itu saya berencana untuk menginap di bandara. Sengaja mengambil penerbangan malam, selain karena tiket murah juga agar bisa merasakan bermalam di bandara yang baru saja di bangun dan konon sangat megah.

Bandara Internasional Suvarnabhumi merupakan bandara baru untuk menggantikan Bandara Internasional Don Muang. Terletak di provinsi Samut Prakan, Racha Thewa, distrik Bang Phli, sekitar 25 kilometer sebelah timur Bangkok. Raja Bhumibol Adulyadej memilih nama Suvarnabhumi yang artinya tanah emas.

Bandara ini mempunyai menara kontrol dengan tinggi 132,2 meter, menjadikannya sebagai bandara dengan menara kontrol tertinggi di dunia. Luas terminal bandara (563.000 meter persegi) sehingga menjadikan bandara ini pula sebagai bandara yang mempunyai luas terminal tunggal kedua di dunia di bawah Bandara Internasional Hong Kong. Selain itu di Asia, Bandara Internasional Suvarnabhumi juga menjadi bandara tersibuk keempat di bawah Bandara Internasional Haneda, Bandara Internasional Beijing dan Bandara Internasional Hong Kong.

Bandara baru itu di buat dengan sebuah struktur berangin yang sangat futuristik dirancang oleh seorang arsitek asal Jerman Helmut Jahn. Memiliki ciri khas ruang dengan tempat terbuka yang berbentuk oval. Selain itu sistem pengatur suhu yang hemat energi, dan sejumlah keistimewaan dalam konstruksi bandara.

Interiornya sendiri di dominasi warna – warna minimalis modern perpaduan putih-krem pucat-abu dan pada malam hari sinar biru dari lampu menambah hidup suasana futureristik. Secara ringkas konsep interior pada rancangan bangunan ini ingin mengesankan bahwa bandara ini merupakan bandara masa depan yang siap melayani jutaan penumpang. Luar biasa bukan saya bisa menjelaskan dengan rinci tentang bandara ini, kok bisa?? ya iyahlah soale saya baca dulu sejarah bandara ini di wikipedia ;p

Ach tentunya saya tidak berbicara lebar soal ini itunya bandara. Kembali ke tulisan awal dimana tepat menjelang tengah malam pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di landasan bandara. Turun dari tangga pesawat saya langsung disambut bus penjemput. Sambil menuruni tangga pesawat sayapun menerawang, wah seharusnya bandara baru ini kudu ada penerima tamu hula-hula yang mengalungkan bunga di leher. Halaa boro-boro penari hula-hula saya malah ditegur petugas lapangan. Segera saya diperintahkan segera masuk bus pengangkut penumpang. Ternyata saya orang terakhir yang keluar dari pesawat, sementara bus sudah menunggu dan siap berangkat.

Bus berjalan perlahan, saya perhatikan dari jendela. Banyak berjejer pesawat di landasan pacu, sepertinya baru mendarat. Beberapa diantaranya saya lihat pesawat tipe Airbus A-380, pesawat komersial terbesar dunia. Dari logo-logo khasnya yang mencolok berwarna-warni dengan mudah saya bisa melihat pesawat berbadan besar seperti Lutfansa, KLM, JAL, Emirates dll. Beberapa kali bus harus berhenti di persimpangan karena menunggu bergantian dengan kendaraan lain. Dijalur jalan lalu lalang kendaraan-kendaraan seperti mobil pengangkut bagasi, mobil kru pesawat, mobil pembawa avtur (bahan bakar pesawat) ramai sekali. Sampai sempat berfikir ini jalan di bandara apa jalan di ditengah kota.

Buspun mulai berjalan perlahan, kali ini melewati hanggar-hanggar besar berisikan pesawat khusus kargo seperti Fedex, DHL dan beberapa pesawat kecilnya lainnya yang parkir secara teratur. Dari penuturan petugas didalam bus, sementara ini kondisi datang dan pergi pesawat sedang dalam masa transisi dari bandara lama Don Muang ke bandara baru ini, jadi penumpang dimohon maklum jarak dari pesawat berhenti mendarat dengan lobi keluar cukup jauh. Ahkirnya setelah kurang lebih kira-kira 15 menit-an buspun menepi di sisi sebuah gedung, nah kalau sudah begini berasa banget kalau bandara ini luas sekali.

Tak lama kemudian bus berhenti di sebuah gedung, berjalan sekitar 10 menit langsung semua penumpang diarahkan untuk masuk ke pemeriksaan imigrasi. Selesai dengan pemeriksaan imigrasi yang memakan waktu tidak lebih dari 15 menit, segera saya masuk ke dalam ruang pengambilan bagasi. Dan astaga, ruangannya besar sekali, hiruk pikuk orang yang mengambil tas atau barang bawaan silih berganti. Tentu saja walau waktu menujukan pukul 01.00 lewat artinya sudah melewati tengah malam aktifitas orang masih terlihat ramai.

Tak sulit untuk menemukan carousels/ ban berjalan tempat tas saya keluar dari “perut” pesawat. Monitor di tv menuntun saya untuk cepat bisa menemukan nomor carousel di mana bagasi saya dapat diambil. Troleypun tak sulit didapat, tak lupa memeriksa ransel khwatir rusak, atau tas dibobol “tikus” bandara. Rupanya tak ada masalah, ransel masih dalam keadan tertutup rapat, juga tidak ada tanda-tanda kerusakan pada resleting.

Perlahan berjalan mendorong troley yang berisi tas ransel, kini mata saya buka lebar-lebar. Whuah akhirnya tiba juga saya disini di Bandara Suvarnabhumi. Bandara baru nan besar ini memang megah sekali. Dari mulai pesawat mendarat, bus yang membawa saya ke lobi tempat pemeriksaan imigrasi hingga pengambilan bagasi, aktifitas manusia dengan kesibukannya masing-masing seolah tiada henti.

Sambil sesekali saya mengambil gambar dengan kamera, saya berusaha mencari tempat yang nyaman untuk istirahat. Yap betul saya akan tidur di bandara ini. Sesuai petunjuk di papan, ruang tempat menunggu bagi penumpang berada di lantai 4, segera saya dorong troley menuju ekslator berjalan. Patoet dipoejikan buat arsitek yang membangun bandara ini. Saat melihat pilar-pilar yang menjadi penyangga bangunan ini sungguh futureristik. Lalulintas perpindahan dari lantai bawah ke lantai atas sangat mudah, tidak sampai 5 menit saya sudah berada di lantai tempat ruang tunggu penumpang. Dihadapan saya terlihat berjejer kursi-kursi. Aha ini dia, niat untuk tidur di bandara ini akhirnya saya terlaksana juga.

Setelah melepas sepatu, memindahkan tas berisi peralatan kamera dari troley ke kursi, segera saya merebahkan diri. Lelah badan rasanya terbayar setelah tiba di bandara ini. Saya perhatikan sekeliling, banyak sekali orang-orang yang merebahkan diri untuk sekedar tiduran, membaca buku, asik melamun dan macam-macam gaya lainnya. Sebagian besar bule. Tidak terlihat tampang asia seperti saya. Sambil melemaskan otot-otot, sayapun berusaha memejankan mata, 10 menit 15 menit berlalu, ternyata sulit sekali untuk mencoba tidur. Beberapa kali mata sempat terpejam, tapi lebih sering terjaga. Entah terlalu capai, atau karena suasana masih terasa asing membuat saya sulit untuk tidur.

Sebelum menuju lantai 4 ini ada hal yang membuat saya tertarik yaitu papan petunjuknya (signboard). Tanda penunjuk mushola begitu jelas terpampang baik di papan maupun peta situasi. Ini menarik karena sebagai negara dengan mayoritas beragama Budha, keberadaan sistem yang jelas merupakan nilai plus bagi pengelola bandara. Sebagai perbandingan di KLIA – Kualalumpur Malaysia yang mayoritas muslim, papan petunjuk keberadaan Mushola tidak sejelas di bandara ini. Akhirnya, saya pikir coba saja menemukan tempat ini. Mungkin dengan berdiam di mushola barangkali saya bisa lebih tenang beristirahat.

Tidak susah menemukan tempat ini, berada di sisi dalam gedung. Tempatnya cukup nyaman, segera saya masuk kedalam. Di dalam ternyata saya lihat ada 3 orang berlainan posisi sedang lelap tertidur. Sebetulnya tidur di mushola tidak disarankan, karena bagaimanpun juga mushola adalah tempat untuk orang beribadah, perkecualian bagi musafir yang kemalaman ditengah perjalanan. Ach anggap saja saya musafir yang kemalaman. ;p

Benar saja, tak lama setelah merebahkan diri, langsung saja saya “terbang” menuju alam mimpi. Hingga tiba-tiba lambat laun saya mendengar suara adzan, setengah sadar saya memicingkan mata, melihat jam di handphone waktu menunjukan pukul 5 pagi. Astaga saya lelap tidur, ada 3 sampai 4 orang yang keliatannya bersiap untuk melaksanakan shalat subuh. Segera saya bangun, mengambil air wudhu dan ikut shalat berjamaah.

Waktu menunjukan pukul enam pagi. Walau demikian suasana diluar masih gelap. Rencananya dari bandara ini saya akan mengunakan bus menuju Khaosan Road di mana saya sudah memesan kamar jauh hari sebelumnya. Cukup sudah walau singkat 4 jam saya bisa merasakan juga tidur di bandara ini. Segera saya berkemas membereskan ransel dan mendorong troley menuju lantai dasar. Dan saudara-saudara apa yang terjadi diluar. Ternyata diluar ternyata hujan deras!!. Halaa padahal didalam gedung, rasa-rasanya tidak “berasa” kalau diluar hujan deras. Begitulah bandara yang dirancang dengan teknik tinggi membuat suasana di dalam benar-benar berbeda dengan di luar.

Foto2 Bandara Suvarnabhumi lainnya bisa dilihat di

http://artson.multiply.com/photos/album/203/Tidur_di_Bandara_Suvarnabhumi_Bangkok

About these ads

9 Tanggapan to “Cerita perjalanan : Tidur di Bandara Suvarnabhumi Bangkok”

  1. mmm, bandara Baru yah, pakai acara banjir juga ga:):)
    A380 memang dah banyak yang operasional yah Mas..kira2 bisa ga mendarat di Cengkareng:D :D :D
    btw nice story ^_^v

  2. halo Nangz… kebetulan pas kesana lagi ngga banjir ;p
    btw A380 bisa mendarat di cengkareng, cuman masalahnya pesawat A380 sementyara ini banyak dimiliki maskapai Eropa, dan tahu sendiri ada larangan penerbangan pesawat dari eropa ke Indonesia… jadinya yah gitu deh ;p

  3. waaah,,, saya jadi terinspirasi buat tidur di bandara aja…
    dari pada spend 590B untuk 9 jam…
    kayanya bandaranya juga nyaman ya..?
    TFS kang….

  4. dear Hanin…. iyah 590B buat aku ajah deh hehehehe….. bandaranya nyaman kok coba lihat foto2ku yang di MP

  5. Nginap di Khaosan Road dimananya mas? saya lagi mau cari penginapan murmer tapi bersih dan nyaman di Bangkok, maklum bawa anak-anak.

  6. note

    A380 sementara ini baru dioperasikan oleh SQ,EK sama QF
    belum ada maskapai eropa yang pakai

  7. hm.. kayanya bakal niru nih tidur dibandara.
    mas, ada gk bus / kereta dari bandara yang langsung menuju ke stasiun hua lampong. trus bus2 /kereta tsb mulai beroperasi jam berapa. secara rencana tiba dibangkok dini hari dan keesokkan paginya dah harus terbang lagi ke ho chi minh city, jadi hanya punya waktu sehari di bangkok.
    sekalian nanya mas, bisa gak dalam sehari itu keliling ayuthayya dan grand pallace, (sekitaran kaosan)?

  8. Mas, mau tanya… jarak antara bandara ke khaosan road kira kira butuh waktu berapa lama ya ?

  9. mampir nich dari jakarta selatan…
    also visit jasa pengamanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 129 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: